Suatu ketika muncul pertanyaan dari seorang yang belum memahami islam dan kewajiban-kewajiban seorang muslim atau muslimah : “Kenapa sih kamu pakai cadar?”
Pertama, alas an yang sederhana adalah bahwa saya memakai jilbab bukan hanya untuk sok-sokan, juga bukan untuk gaya-gayaan, bukan juga karena latah ikut-ikutan, atau tudak bermaksud agar hanya sekedar berbeda dari orang lain. Sekali-kali tidak. Secara pandangan kaca mata akidah Islamiyyah dapat saya kemukakan tujuan saya memakai cadar adalah menyempurnakan kejadian, memeri rezeki, melindungi dan menolong saya. Bukankah ketaatan kepada-Nya adalah tanda kita bersyukur atas nikmatNya yang banyak? Baik nikmat iman, nikmat islam dan nikmat kesehatan serta berjuta nikmat yang telah Allah berikan.
Pernahkah anda merenungkan tentang nikmat memiliki mata?
Pernahkah anda hitung berapa juta banyaknya yang dapat dinikmati oleh kedua biji mata kita.?
Pernahkah anda bayangkan misalnya anda seorang buta?
Apakah hari-hari kehidupan anda seceria saat ini?
Bahkan seorang yang buta tak tau betapa indahnya spectrum warna yang beraneka macmnya.
Selanjutnya saya ingin terangkan kepada anda, “karena saya ingin taat pada Rasul-Nya, pembimbing umat dengan risalah beliau. Beliaulah satu-satunya teladan umat dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam. Beliaulah yang menyerupakan agar kaum wanita argar menutup auratnya. Beliaulah yang menyerukan tentunya dengan seizing Allah agar menghormati hak-hak wanita.
Dengan syiar islam beliau SAW telah meninggikan derajat wanita dari belenggu kehinaan dan hanya menjadi obyek nafsu belaka. Dan mengarahkan agar wanita menjadi subyek dalam proses pembangunan ummat.
Bukankah tugas mendidik anak sesuai ajaran Islam adalah peranan subyektif dari seorang wanita ? Sebab dalam pandangan islam, soal nilai kerja di dalam atau di luar rumah, semua itu tergantung niatnya. Bukan berarti semakin besar pendapatan seorang wanita, maka semakin besar pula pahalanya. Yang penting dia ikhlas atau tidak? Dia sesuai aturan syar’I atau justru dengan keluar rumahnya malah maksiat terhadap amanah-amanah Allah. Maksia terhadap keluarganya. Sungguh dapat saja terjadi bahwa pahala wanita yang bekerja di rumah justru lebih besar dari pahala suaminya yang bekerja di luar rumah. Sebab dia lebih ikhlas. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa kita kaum wanita hendaklah jadi subyek dalam pendidikan generasi robbani ini.
Dalam pandangan lain seperti kaum orientalis barat sering lontarkan, bahwa cadar itu adalah pakaian wanita yang inferior (rendah diri), sebab minder bergaul dengan orang modern.
Terus terang saya katakana bahwa pandangan itu adalah keliru besar! Pandangan penyerang-penyerang islam yang lagi panic melihat hasil kerjanya sia-sia tanpa makna. Pandangan ini tidak berdasar sama sekali.
Cadar adalah pakaian taqwa dan saya tengah berusaha mencapai derjat taqwa. Dengan ini saya tidak menjadi minder. Justru ada semacam ‘izzah (kemulian) diri. Juga serasa meninggikan izzah islam. Sekaligus untuk syiar Islam.
Saya ingin menjadi mar’ah shoihah, sebagaimana criteria Allah dan RasulNya.
0 komentar:
Poskan Komentar